Sunday, June 16, 2013

pandangan hidup manusia sebagai warga negara

PANDANGAN HIDUP MANUSIA SEBAGAI WARGA NEGARA




BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Yang menjadi masalah adalah dalam kualitas atau kedalaman interpretasi. Horison yang diperluas oleh teori tentu juga berpengaruh terhadap kedalaman manusia dalam mengintepretasi ideologinya, demikian juga dalam kemampuan menangkap fakta-fakta, baik yang aktual maupun yang merupakan fakta potensial. Tetapi yang menjadi pusat gravitasi dalam interpretasi ideologi adalah keterlibatan. Intensitas pergulatan dalam kerja-kerja ideologislah sebenarnya yang akan memberikan bobot kedalaman tertinggi dalam interpretasi ideologi, bukan teori maupun kemampuan menangkap fakta-fakta yang dihadapi. Di dalam keterlibatan yang intens dengan kerja-kerja ideologis, intuisi juga akan berkembang. Intuisi yang semakin berkembang ini tidaklah berlawanan dengan bangunan teori dan kemampuan dalam menangkap fakta, tetapi justru dengan berkembangnya intuisi ini, teori dan kemampuan menangkap fakta menemukan energi yang tiada habisnya.

Daya tahan ideologi pertama-tama sebenarnya terletak pada masalah interpretasi ini, yaitu adalah bagaimana sebuah ideologi mampu membuka diri terhadap sebuah (atau beberapa) interpretasi dan juga bagaimana manusia-manusia mampu menghidupi sebuah ideologi melalui interpretasi yang dilakukannya secara terus menerus. Penyimpangan-penyimpangan ideologi juga pertama-tama terkait dengan interpretasi ini. Di era Orde Baru, Pancasila telah menjadi ideologi yang hak interpretasinya dimonopoli oleh penguasa, dan seperti yang bisa kita catat bersama akhirnya Pancasila sebagai ideologi jatuh sekedar sebagai bunyi-bunyian saja dan tragisnya, sekedar menjadi alat legitimasi dan palu godam penguasa dalam menghadapi lawan-lawan politiknya. Kedalaman interpretasi tidak terbangun melalui keterlibatan dalam kerja-kerja ideologis, tetapi inginnya diraih dalam ruang-ruang kelas lewat penguasaan modul-modul penataran. Dan dapat kita lihat selanjutnya, tidak ada intuisi yang berkembang. Tidak berkembangnya intuisi ini kemudian berakibat pula pada lemahnya kemampuan dalam memperluas horison teoritis dan menangkap fakta-fakta, karena keduanya seakan sudah dan selalu akan kekurangan energi hidupnya. Hubungan manusia dan ideologi akhirnya jatuh betul-betul seperti seekor kuda dan tali kekangnya. Dan karena manusia bukanlah seekor kuda, pada titik tertentu dia akan meraih tali kekang itu, merenggut dan kemudian membuangnya, dan saat itulah sebuah ideologi sedang menggali kuburnya sendiri.
1.2 Permasalahan
  1. Apa yang di maksud ideologi?
  2. Macam-macam pandangan hidup sebagai warga Negara?

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ideologi
Ideologi dan manusia-manusia yang menghidupinya

Menjengkelkan memang, ketika untuk tahu siapa manusia kadang ada yang harus meminjam dunia binatang, sehingga manusia kadang disebut sebagai binatang yang rasional, binatang yang berdiri tegak atau juga binatang ideologis. Yang jelas ketika manusia disebut sebagai binatang ideologis, tentu yang dimaksud adalah tidak seperti layaknya seekor kuda yang berjalan sesuai tarikan tali kekang (ideologi)nya. Sebab tidak seperti hubungan antara kuda dan tali kekangnya, hubungan manusia dengan ideologi itu (semestinya) selalu melibatkan interpretasi, retorika dan etik.

Di dalam interpretasi terhadap ideologi, manusia akan selalu melibatkan hadirnya fakta-fakta kongkret yang dihadapinya. Selain fakta, dalam menginterpretasikan ideologinya, manusia juga melibatkan berbagai macam teori, bahkan untuk teori yang sangat sederhana seperti halnya sebuah common sense. Artinya di sini adalah, interpretasi manusia terhadap sebuah ideologi itu sifatnya relasional, demikian juga sebenarnya ketika kita bicara interpretasi manusia atas fakta maupun terhadap teori. Antara ideologi atau nilai-nilai, teori dan fakta terdapat relasi atau hubungan yang erat.

Yang menjadi masalah adalah dalam kualitas atau kedalaman interpretasi. Horison yang diperluas oleh teori tentu juga berpengaruh terhadap kedalaman manusia dalam mengintepretasi ideologinya, demikian juga dalam kemampuan menangkap fakta-fakta, baik yang aktual maupun yang merupakan fakta potensial. Tetapi yang menjadi pusat gravitasi dalam interpretasi ideologi adalah keterlibatan. Intensitas pergulatan dalam kerja-kerja ideologislah sebenarnya yang akan memberikan bobot kedalaman tertinggi dalam interpretasi ideologi, bukan teori maupun kemampuan menangkap fakta-fakta yang dihadapi. Di dalam keterlibatan yang intens dengan kerja-kerja ideologis, intuisi juga akan berkembang. Intuisi yang semakin berkembang ini tidaklah berlawanan dengan bangunan teori dan kemampuan dalam menangkap fakta, tetapi justru dengan berkembangnya intuisi ini, teori dan kemampuan menangkap fakta menemukan energi yang tiada habisnya.

Daya tahan ideologi pertama-tama sebenarnya terletak pada masalah interpretasi ini, yaitu adalah bagaimana sebuah ideologi mampu membuka diri terhadap sebuah (atau beberapa) interpretasi dan juga bagaimana manusia-manusia mampu menghidupi sebuah ideologi melalui interpretasi yang dilakukannya secara terus menerus. Penyimpangan-penyimpangan ideologi juga pertama-tama terkait dengan interpretasi ini. Di era Orde Baru, Pancasila telah menjadi ideologi yang hak interpretasinya dimonopoli oleh penguasa, dan seperti yang bisa kita catat bersama akhirnya Pancasila sebagai ideologi jatuh sekedar sebagai bunyi-bunyian saja dan tragisnya, sekedar menjadi alat legitimasi dan palu godam penguasa dalam menghadapi lawan-lawan politiknya. Kedalaman interpretasi tidak terbangun melalui keterlibatan dalam kerja-kerja ideologis, tetapi inginnya diraih dalam ruang-ruang kelas lewat penguasaan modul-modul penataran. Dan dapat kita lihat selanjutnya, tidak ada intuisi yang berkembang. Tidak berkembangnya intuisi ini kemudian berakibat pula pada lemahnya kemampuan dalam memperluas horison teoritis dan menangkap fakta-fakta, karena keduanya seakan sudah dan selalu akan kekurangan energi hidupnya. Hubungan manusia dan ideologi akhirnya jatuh betul-betul seperti seekor kuda dan tali kekangnya. Dan karena manusia bukanlah seekor kuda, pada titik tertentu dia akan meraih tali kekang itu, merenggut dan kemudian membuangnya, dan saat itulah sebuah ideologi sedang menggali kuburnya sendiri.

Kedalaman interpretasi ideologi yang mensyaratkan keterlibatan ini jelas memerlukan satu paradigma tertentu dalam memaknai soal waktu. Keterlibatan pastilah melihat waktu dalam paradigma yang disebut oleh Henri Bergson sebagai duree, waktu yang tidak terpotong-potong, kontinyu dan yang betul-betul dialami. Perjalanan sejarah atau hidup sebuah ideologi bukan lagi ditentukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang pertama-tama menghadirkan ideologi itu dalam sejarah manusia, tetapi adalah oleh orang-orang yang secara terus menerus menghidupinya, bahkan ketika itu terjadi dari generasi ke generasi, dan ini sekali lagi, pertama-tama ini adalah masalah interpretasi ideologi. Perhitungan matematika 2+2=4 tidak selalu harus dilacak sejarah dan latar belakang pemikirannya ketika kita menghadapi problema matematika sejenis, tetapi berbeda dengan, dalam hal ini, masalah-masalah ideologi. Sejarah, masa lalu, latar belakang, perkembangan ideologi selalu harus hadir dalam interpretasi kita terhadap ideologi. Dari segi waktu, interpretasi ideologi selalu melibatkan masa lalu, sekarang dan masa depan sebagai satu kontinyuitas dengan segala kemungkinan yang selalu terbuka di kedua belah pihak, baik di pihak ideologi maupun manusia yang menghidupi dan menginterpretasikannya.

Retorika di sini bukanlah seperti kemampuan bicara dari kaum Sophist yang suka merangkai kata indah untuk semata mencapai kepentingan diri dan karena itu justru sering mengesampingkan kebenaran yang ada. Retorika di sini adalah erat terkait dengan kebenaran, kebenaran seperti yang dimaknai oleh Martin Heidegger sebagai alethea, yang membuka selubung-selubung penutup kebenaran. Maka keterkaitan ideologi dengan retorika adalah bagaimana manusia-manusia yang menghidupi dan mengintepretasi ideologi itu mampu ”membunyikan” ideologi untuk membuka selubung-selubung yang menutupi kebenaran. Dengan retorika justru ideologi diharapkan tidak menjadi selubung yang memanipulasi kebenaran, yang menina-bobokkan pengikut-pengikutnya akan realitas yang sebenarnya, tetapi justru yang membongkar selubung-selubung itu.

Ideologi memang harus ”dibunyikan” sehingga dengan bunyi-bunyi itu manusia semakin dapat mampu memahami apa yang dimaksudkan atau apa yang mau dicapai oleh ideologi itu, sekaligus juga dalam hal ini –pada saat yang sama, muncullah kesempatan terjadinya dialog. Karena dialog yang sejati mensyaratkan kesungguhan maka ”bunyi” ideologi semestinyalah tidak boleh jatuh pada sekedar ”bunyi-bunyi-an”, berbunyi nyaring tanpa satu upayapun untuk merealisasikannya dalam kehidupan nyata. Maka jelas di sini, hubungan retorika dan ideologi adalah bagaimana ideologi mampu menjawab persoalan-persoalan yang dihadapkan oleh fakta-fakta aktual maupun fakta-fakta potensial. Dan jawaban inilah yang ”dibunyikan” oleh manusia-manusia yang menghidupi dan menginterpretasi ideologi.

Yang ketiga adalah masalah etik, yaitu bagaimana retorika ideologi itu dapat dilaksanakan oleh orang-orang yang menghidupi ideologi itu. Ideologi selalu mempunyai dimensi etis, yaitu menuntut untuk dilaksanakannya dalam kehidupan kongkret. Tanpa upaya dilaksanakan dalam kehidupan kongkret, maka jelas tidak ada keterlibatan di sini, dan kembali seperti yang telah disampaikan di atas, tanpa keterlibatan tidak akan pernah ada kedalaman dalam interpretasi ideologi.

Jadi hubungan antara ideologi dan manusia-manusia yang menghidupinya selalu akan melibatkan interpretasi, retorika dan etik, atau meminjam istilah yang pernah dilontarkan oleh Bung Karno, selalu melibatkan romantika, dinamika dan dialektikahttp
2.2 Pandangan Hidup Warga Negara
Keragaman budaya bangsa Indonesia diungkapkan dengan kalimat Bhinneka Tunggal Ika yang mengandung arti, meskipun bangsa Indonesia itu terdiri dari berbagai suku bangsa, budaya dan bahasa, tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia itu satu sebagai bangsa. Secara konsepsional, keragaman budaya itu merupakan aset bangsa, oleh karena itu perbedaan tidak harus dipersoalkan, sepanjang perbedaan itu dalam kerangka persatuan. Pancasila sering disebut sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. Artinya nilai-nilai dari sila-sila Pancasila memang digali dari khazanah kebudayaan bangsa. Dari itu maka setiap pandangan hidup warga bangsa dijamin eksistensinya. Setiap warga negara dijamin oleh Undang-Undang untuk menjalankan agamanya sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya. Dalam perjalanan bangsa, pandangan Komunismepun pernah diakomodir dalam poros Nasakom. Hanya karena kesalahan PKI yang menggunakan kekerasan dalam peristiwa G.30.S lah yang menyebabkan faham komunis terlarang secara konstitusional di Indonesia.
Data sejarah bangsa menunjukkan bahwa aspirasi Islam sebagai way of life tak pernah berhenti terlibat dalam pergumulan ideologis, termasuk dalam proses perumusan UUD 45, dan kesemuanya berjalan sangat wajar karena mayoritas penduduk Indonesia menganut agama Islam. Oleh karena itu tak bisa dipungkiri bahwa di dalam Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa sebenarnya terkandung butir-butir pandangan hidup Islam.
Berbicara mengenai Islam sebagai pandangan hidup dapat terungkap jika kita dapat memahami masalah HIDUP yang pada garis besarnya meliputi tiga permasalahan, yaitu (a) pandangan hidup, (b) Pola Hidup, dan (c) Etika hidup.
Pandangan Hidup umat manusia sepanjang sejarahnya mencatat banyak ragam pandangan hidup, baik yang dikenal sebagai filsafat maupun yang dikenal sebagai ajaran leluhur, maupun yang dikenal sebagai agama/ajaran Tuhan. Dalam Islam, pandangan hidup itu disebut aqidah (suatu keyakinan yang mengikat batin manusia). Karena mengikat batin maka aqidah menjadi pegangan hidup. Aqidah Islam memperkenalkan kepada manusia tentang Tuhan, tentang alam raya dan tentang makhluk manusia, di mana setiap individu termasuk di dalamnya.
Semua manusia secara naluriah mengenal dirinya dan alam sekitarnya sampai kepada alam raya. Secara naluriah manusia juga mengenal Tuhan (sekalipun dalam berbagai macam persepsi) dan pengenalannya itu saat menjadi keyakinan, memberikan pandangan hidup tertentu yang dijadikannya pegangan hidup bagi dirinya. Pandangan hidup yang diajarkan Islam menjelaskan kepada manusia bahwa ke-HIDUP-an itu adalah sesuatu yang amat mulia dan amat berharga.
Hidup yang dianugerahkan Allah kepada manusia merupakan modal dasar untuk memenuhi fungsinya dan menentukan harkat dan martabatnya sendiri.
Oleh karena itu pesan-pesan al Qur'an dan hadis Rasulullah sendiri memberikan banyak peringatan kepada manusia supaya menggunakan modal dasar tersebut secermat mungkin dan jangan sekali-kali menyia-nyiakannya, karena ia sangat terbatas, baik waktunya maupun ruangnya. Lebih jauh lagi dijelaskan tentang adanya dua jenis ke-HIDUP-an, yaitu kehidupan manusia di bumi yang sangat terbatas ruang dan waktunya, dan karena keterbatasannya itu ia tidak bersifat kekal abadi, namun sifatnya nyata sehingga setiap orang mudah mengenalnya dan merasakannya.
Pada dasarnya kehidupan ini menyenangkan bagi manusia, karena bumi dan alam sekitarnya sudah dipersiapkan sedemikian rupa oleh Allah untuk mendukung kehidupan manusia. Ciri kesenangan inilah kemudian mendominasi pandangan hidup kebanyakan orang sehingga menjadikan "kesenangan" itu sebagai identifikasi dari kehidupan itu sendiri. Pandangan yang demikian itu direkam dalam surah al Hadid; di mana digambarkan bahwa yang dianggap kehidupan yang sesungguhnya ialah; permainan, senda gurau, kemegahan, perlombaan memperkaya diri, dan memperbanyak keturunan/pendukung (Q/57:20). Hal ini lebih diperjelas dalam surat Ali `Imran dimana digambarkan bahwa manusia menjadi tertarik mencintai segala yang menggiurkan, di antaranya; wanita-wanita, putera-puteri, emas dan perak yang bertumpuk-tumpuk, kendaraan pilihan, ternak dan sawah ladang. Semua itu adalah kenyataan-kenyataan yang sudah sangat dikenal oleh semua manusia, dan sebagian mereka sempat merasakan nikmatnya.
Pada dasarnya hal itu semua tidak pada tempatnya untuk dibenci atau diremehkan, karena kesemuanya itu adalah sebahagiaan dari nikmat Allah yang dipersiapkan untuk mendukung kehidupan manusia. Namun pemanfaatannya harus sesuai dengan petunjuk penggunaannya, dan ini terkait dengan pola hidup.
Selanjutnya jenis kehidupan lain yang diperkenalkan Islam adalah kehidupan di alam akhirat yang mutunya lebih tinggi, karena tidak terbatas dan bersifat kekal abadi. Segala kenikmatan yang ada di dalam kehidupan akhirat adalah lebih sempurna. Kedua jenis kehidupan tersebut itu bukan berdiri sendiri-sendiri, tetapi yang kedua merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari yang pertama. Alam akhirat merupakan tempat dan saat perhitungan akhir, dan penentuan nilai tetap bagi setiap manusia yang pernah menjalani kehidupan di alam dunia. Alam akhirat bukan lagi tempat dan waktu bekerja dan berbuat, tetapi hanyalah tempat dan saat menerima hasil akhir kerja dan perbuatan yang telah dilakukan sebelumnya, yaitu selama kita hidup di bumi ini. Dengan demikian, nyatalah bahwa kehidupan sebelumnya itu (yakni di dunia) sangat penting artinya. Kesempatan bekerja dan berbuat hanyalah didapatkan dalam kehidupan di alam dunia ini saja. Jadi benar-benarlah bahwa kehidupan di alam dunia ini merupakan modal dasar bagi manusia.









BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Secara konsepsional, keragaman budaya itu merupakan aset bangsa, oleh karena itu perbedaan tidak harus dipersoalkan, sepanjang perbedaan itu dalam kerangka persatuan. Pancasila sering disebut sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. Artinya nilai-nilai dari sila-sila Pancasila memang digali dari khazanah kebudayaan bangsa.
3.2 Saran
Demikian lah makalah ini dibuat,semoga mendapatkan banyak pengetahuan dan menambah wawasan bagi pembaca. Selanjutnya, penulis juga mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini.

Daftar pusaka

://www.pergerakankebangsaan.org/?p=944
//doankfranky.blog.com/2011/04/20/manusia-dan-pandangan-hidup/

pandangan hidup manusia sebagai warga negara

PANDANGAN HIDUP MANUSIA SEBAGAI WARGA NEGARA




BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Yang menjadi masalah adalah dalam kualitas atau kedalaman interpretasi. Horison yang diperluas oleh teori tentu juga berpengaruh terhadap kedalaman manusia dalam mengintepretasi ideologinya, demikian juga dalam kemampuan menangkap fakta-fakta, baik yang aktual maupun yang merupakan fakta potensial. Tetapi yang menjadi pusat gravitasi dalam interpretasi ideologi adalah keterlibatan. Intensitas pergulatan dalam kerja-kerja ideologislah sebenarnya yang akan memberikan bobot kedalaman tertinggi dalam interpretasi ideologi, bukan teori maupun kemampuan menangkap fakta-fakta yang dihadapi. Di dalam keterlibatan yang intens dengan kerja-kerja ideologis, intuisi juga akan berkembang. Intuisi yang semakin berkembang ini tidaklah berlawanan dengan bangunan teori dan kemampuan dalam menangkap fakta, tetapi justru dengan berkembangnya intuisi ini, teori dan kemampuan menangkap fakta menemukan energi yang tiada habisnya.

Daya tahan ideologi pertama-tama sebenarnya terletak pada masalah interpretasi ini, yaitu adalah bagaimana sebuah ideologi mampu membuka diri terhadap sebuah (atau beberapa) interpretasi dan juga bagaimana manusia-manusia mampu menghidupi sebuah ideologi melalui interpretasi yang dilakukannya secara terus menerus. Penyimpangan-penyimpangan ideologi juga pertama-tama terkait dengan interpretasi ini. Di era Orde Baru, Pancasila telah menjadi ideologi yang hak interpretasinya dimonopoli oleh penguasa, dan seperti yang bisa kita catat bersama akhirnya Pancasila sebagai ideologi jatuh sekedar sebagai bunyi-bunyian saja dan tragisnya, sekedar menjadi alat legitimasi dan palu godam penguasa dalam menghadapi lawan-lawan politiknya. Kedalaman interpretasi tidak terbangun melalui keterlibatan dalam kerja-kerja ideologis, tetapi inginnya diraih dalam ruang-ruang kelas lewat penguasaan modul-modul penataran. Dan dapat kita lihat selanjutnya, tidak ada intuisi yang berkembang. Tidak berkembangnya intuisi ini kemudian berakibat pula pada lemahnya kemampuan dalam memperluas horison teoritis dan menangkap fakta-fakta, karena keduanya seakan sudah dan selalu akan kekurangan energi hidupnya. Hubungan manusia dan ideologi akhirnya jatuh betul-betul seperti seekor kuda dan tali kekangnya. Dan karena manusia bukanlah seekor kuda, pada titik tertentu dia akan meraih tali kekang itu, merenggut dan kemudian membuangnya, dan saat itulah sebuah ideologi sedang menggali kuburnya sendiri.
1.2 Permasalahan
  1. Apa yang di maksud ideologi?
  2. Macam-macam pandangan hidup sebagai warga Negara?

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ideologi
Ideologi dan manusia-manusia yang menghidupinya

Menjengkelkan memang, ketika untuk tahu siapa manusia kadang ada yang harus meminjam dunia binatang, sehingga manusia kadang disebut sebagai binatang yang rasional, binatang yang berdiri tegak atau juga binatang ideologis. Yang jelas ketika manusia disebut sebagai binatang ideologis, tentu yang dimaksud adalah tidak seperti layaknya seekor kuda yang berjalan sesuai tarikan tali kekang (ideologi)nya. Sebab tidak seperti hubungan antara kuda dan tali kekangnya, hubungan manusia dengan ideologi itu (semestinya) selalu melibatkan interpretasi, retorika dan etik.

Di dalam interpretasi terhadap ideologi, manusia akan selalu melibatkan hadirnya fakta-fakta kongkret yang dihadapinya. Selain fakta, dalam menginterpretasikan ideologinya, manusia juga melibatkan berbagai macam teori, bahkan untuk teori yang sangat sederhana seperti halnya sebuah common sense. Artinya di sini adalah, interpretasi manusia terhadap sebuah ideologi itu sifatnya relasional, demikian juga sebenarnya ketika kita bicara interpretasi manusia atas fakta maupun terhadap teori. Antara ideologi atau nilai-nilai, teori dan fakta terdapat relasi atau hubungan yang erat.

Yang menjadi masalah adalah dalam kualitas atau kedalaman interpretasi. Horison yang diperluas oleh teori tentu juga berpengaruh terhadap kedalaman manusia dalam mengintepretasi ideologinya, demikian juga dalam kemampuan menangkap fakta-fakta, baik yang aktual maupun yang merupakan fakta potensial. Tetapi yang menjadi pusat gravitasi dalam interpretasi ideologi adalah keterlibatan. Intensitas pergulatan dalam kerja-kerja ideologislah sebenarnya yang akan memberikan bobot kedalaman tertinggi dalam interpretasi ideologi, bukan teori maupun kemampuan menangkap fakta-fakta yang dihadapi. Di dalam keterlibatan yang intens dengan kerja-kerja ideologis, intuisi juga akan berkembang. Intuisi yang semakin berkembang ini tidaklah berlawanan dengan bangunan teori dan kemampuan dalam menangkap fakta, tetapi justru dengan berkembangnya intuisi ini, teori dan kemampuan menangkap fakta menemukan energi yang tiada habisnya.

Daya tahan ideologi pertama-tama sebenarnya terletak pada masalah interpretasi ini, yaitu adalah bagaimana sebuah ideologi mampu membuka diri terhadap sebuah (atau beberapa) interpretasi dan juga bagaimana manusia-manusia mampu menghidupi sebuah ideologi melalui interpretasi yang dilakukannya secara terus menerus. Penyimpangan-penyimpangan ideologi juga pertama-tama terkait dengan interpretasi ini. Di era Orde Baru, Pancasila telah menjadi ideologi yang hak interpretasinya dimonopoli oleh penguasa, dan seperti yang bisa kita catat bersama akhirnya Pancasila sebagai ideologi jatuh sekedar sebagai bunyi-bunyian saja dan tragisnya, sekedar menjadi alat legitimasi dan palu godam penguasa dalam menghadapi lawan-lawan politiknya. Kedalaman interpretasi tidak terbangun melalui keterlibatan dalam kerja-kerja ideologis, tetapi inginnya diraih dalam ruang-ruang kelas lewat penguasaan modul-modul penataran. Dan dapat kita lihat selanjutnya, tidak ada intuisi yang berkembang. Tidak berkembangnya intuisi ini kemudian berakibat pula pada lemahnya kemampuan dalam memperluas horison teoritis dan menangkap fakta-fakta, karena keduanya seakan sudah dan selalu akan kekurangan energi hidupnya. Hubungan manusia dan ideologi akhirnya jatuh betul-betul seperti seekor kuda dan tali kekangnya. Dan karena manusia bukanlah seekor kuda, pada titik tertentu dia akan meraih tali kekang itu, merenggut dan kemudian membuangnya, dan saat itulah sebuah ideologi sedang menggali kuburnya sendiri.

Kedalaman interpretasi ideologi yang mensyaratkan keterlibatan ini jelas memerlukan satu paradigma tertentu dalam memaknai soal waktu. Keterlibatan pastilah melihat waktu dalam paradigma yang disebut oleh Henri Bergson sebagai duree, waktu yang tidak terpotong-potong, kontinyu dan yang betul-betul dialami. Perjalanan sejarah atau hidup sebuah ideologi bukan lagi ditentukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang pertama-tama menghadirkan ideologi itu dalam sejarah manusia, tetapi adalah oleh orang-orang yang secara terus menerus menghidupinya, bahkan ketika itu terjadi dari generasi ke generasi, dan ini sekali lagi, pertama-tama ini adalah masalah interpretasi ideologi. Perhitungan matematika 2+2=4 tidak selalu harus dilacak sejarah dan latar belakang pemikirannya ketika kita menghadapi problema matematika sejenis, tetapi berbeda dengan, dalam hal ini, masalah-masalah ideologi. Sejarah, masa lalu, latar belakang, perkembangan ideologi selalu harus hadir dalam interpretasi kita terhadap ideologi. Dari segi waktu, interpretasi ideologi selalu melibatkan masa lalu, sekarang dan masa depan sebagai satu kontinyuitas dengan segala kemungkinan yang selalu terbuka di kedua belah pihak, baik di pihak ideologi maupun manusia yang menghidupi dan menginterpretasikannya.

Retorika di sini bukanlah seperti kemampuan bicara dari kaum Sophist yang suka merangkai kata indah untuk semata mencapai kepentingan diri dan karena itu justru sering mengesampingkan kebenaran yang ada. Retorika di sini adalah erat terkait dengan kebenaran, kebenaran seperti yang dimaknai oleh Martin Heidegger sebagai alethea, yang membuka selubung-selubung penutup kebenaran. Maka keterkaitan ideologi dengan retorika adalah bagaimana manusia-manusia yang menghidupi dan mengintepretasi ideologi itu mampu ”membunyikan” ideologi untuk membuka selubung-selubung yang menutupi kebenaran. Dengan retorika justru ideologi diharapkan tidak menjadi selubung yang memanipulasi kebenaran, yang menina-bobokkan pengikut-pengikutnya akan realitas yang sebenarnya, tetapi justru yang membongkar selubung-selubung itu.

Ideologi memang harus ”dibunyikan” sehingga dengan bunyi-bunyi itu manusia semakin dapat mampu memahami apa yang dimaksudkan atau apa yang mau dicapai oleh ideologi itu, sekaligus juga dalam hal ini –pada saat yang sama, muncullah kesempatan terjadinya dialog. Karena dialog yang sejati mensyaratkan kesungguhan maka ”bunyi” ideologi semestinyalah tidak boleh jatuh pada sekedar ”bunyi-bunyi-an”, berbunyi nyaring tanpa satu upayapun untuk merealisasikannya dalam kehidupan nyata. Maka jelas di sini, hubungan retorika dan ideologi adalah bagaimana ideologi mampu menjawab persoalan-persoalan yang dihadapkan oleh fakta-fakta aktual maupun fakta-fakta potensial. Dan jawaban inilah yang ”dibunyikan” oleh manusia-manusia yang menghidupi dan menginterpretasi ideologi.

Yang ketiga adalah masalah etik, yaitu bagaimana retorika ideologi itu dapat dilaksanakan oleh orang-orang yang menghidupi ideologi itu. Ideologi selalu mempunyai dimensi etis, yaitu menuntut untuk dilaksanakannya dalam kehidupan kongkret. Tanpa upaya dilaksanakan dalam kehidupan kongkret, maka jelas tidak ada keterlibatan di sini, dan kembali seperti yang telah disampaikan di atas, tanpa keterlibatan tidak akan pernah ada kedalaman dalam interpretasi ideologi.

Jadi hubungan antara ideologi dan manusia-manusia yang menghidupinya selalu akan melibatkan interpretasi, retorika dan etik, atau meminjam istilah yang pernah dilontarkan oleh Bung Karno, selalu melibatkan romantika, dinamika dan dialektikahttp
2.2 Pandangan Hidup Warga Negara
Keragaman budaya bangsa Indonesia diungkapkan dengan kalimat Bhinneka Tunggal Ika yang mengandung arti, meskipun bangsa Indonesia itu terdiri dari berbagai suku bangsa, budaya dan bahasa, tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia itu satu sebagai bangsa. Secara konsepsional, keragaman budaya itu merupakan aset bangsa, oleh karena itu perbedaan tidak harus dipersoalkan, sepanjang perbedaan itu dalam kerangka persatuan. Pancasila sering disebut sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. Artinya nilai-nilai dari sila-sila Pancasila memang digali dari khazanah kebudayaan bangsa. Dari itu maka setiap pandangan hidup warga bangsa dijamin eksistensinya. Setiap warga negara dijamin oleh Undang-Undang untuk menjalankan agamanya sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya. Dalam perjalanan bangsa, pandangan Komunismepun pernah diakomodir dalam poros Nasakom. Hanya karena kesalahan PKI yang menggunakan kekerasan dalam peristiwa G.30.S lah yang menyebabkan faham komunis terlarang secara konstitusional di Indonesia.
Data sejarah bangsa menunjukkan bahwa aspirasi Islam sebagai way of life tak pernah berhenti terlibat dalam pergumulan ideologis, termasuk dalam proses perumusan UUD 45, dan kesemuanya berjalan sangat wajar karena mayoritas penduduk Indonesia menganut agama Islam. Oleh karena itu tak bisa dipungkiri bahwa di dalam Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa sebenarnya terkandung butir-butir pandangan hidup Islam.
Berbicara mengenai Islam sebagai pandangan hidup dapat terungkap jika kita dapat memahami masalah HIDUP yang pada garis besarnya meliputi tiga permasalahan, yaitu (a) pandangan hidup, (b) Pola Hidup, dan (c) Etika hidup.
Pandangan Hidup umat manusia sepanjang sejarahnya mencatat banyak ragam pandangan hidup, baik yang dikenal sebagai filsafat maupun yang dikenal sebagai ajaran leluhur, maupun yang dikenal sebagai agama/ajaran Tuhan. Dalam Islam, pandangan hidup itu disebut aqidah (suatu keyakinan yang mengikat batin manusia). Karena mengikat batin maka aqidah menjadi pegangan hidup. Aqidah Islam memperkenalkan kepada manusia tentang Tuhan, tentang alam raya dan tentang makhluk manusia, di mana setiap individu termasuk di dalamnya.
Semua manusia secara naluriah mengenal dirinya dan alam sekitarnya sampai kepada alam raya. Secara naluriah manusia juga mengenal Tuhan (sekalipun dalam berbagai macam persepsi) dan pengenalannya itu saat menjadi keyakinan, memberikan pandangan hidup tertentu yang dijadikannya pegangan hidup bagi dirinya. Pandangan hidup yang diajarkan Islam menjelaskan kepada manusia bahwa ke-HIDUP-an itu adalah sesuatu yang amat mulia dan amat berharga.
Hidup yang dianugerahkan Allah kepada manusia merupakan modal dasar untuk memenuhi fungsinya dan menentukan harkat dan martabatnya sendiri.
Oleh karena itu pesan-pesan al Qur'an dan hadis Rasulullah sendiri memberikan banyak peringatan kepada manusia supaya menggunakan modal dasar tersebut secermat mungkin dan jangan sekali-kali menyia-nyiakannya, karena ia sangat terbatas, baik waktunya maupun ruangnya. Lebih jauh lagi dijelaskan tentang adanya dua jenis ke-HIDUP-an, yaitu kehidupan manusia di bumi yang sangat terbatas ruang dan waktunya, dan karena keterbatasannya itu ia tidak bersifat kekal abadi, namun sifatnya nyata sehingga setiap orang mudah mengenalnya dan merasakannya.
Pada dasarnya kehidupan ini menyenangkan bagi manusia, karena bumi dan alam sekitarnya sudah dipersiapkan sedemikian rupa oleh Allah untuk mendukung kehidupan manusia. Ciri kesenangan inilah kemudian mendominasi pandangan hidup kebanyakan orang sehingga menjadikan "kesenangan" itu sebagai identifikasi dari kehidupan itu sendiri. Pandangan yang demikian itu direkam dalam surah al Hadid; di mana digambarkan bahwa yang dianggap kehidupan yang sesungguhnya ialah; permainan, senda gurau, kemegahan, perlombaan memperkaya diri, dan memperbanyak keturunan/pendukung (Q/57:20). Hal ini lebih diperjelas dalam surat Ali `Imran dimana digambarkan bahwa manusia menjadi tertarik mencintai segala yang menggiurkan, di antaranya; wanita-wanita, putera-puteri, emas dan perak yang bertumpuk-tumpuk, kendaraan pilihan, ternak dan sawah ladang. Semua itu adalah kenyataan-kenyataan yang sudah sangat dikenal oleh semua manusia, dan sebagian mereka sempat merasakan nikmatnya.
Pada dasarnya hal itu semua tidak pada tempatnya untuk dibenci atau diremehkan, karena kesemuanya itu adalah sebahagiaan dari nikmat Allah yang dipersiapkan untuk mendukung kehidupan manusia. Namun pemanfaatannya harus sesuai dengan petunjuk penggunaannya, dan ini terkait dengan pola hidup.
Selanjutnya jenis kehidupan lain yang diperkenalkan Islam adalah kehidupan di alam akhirat yang mutunya lebih tinggi, karena tidak terbatas dan bersifat kekal abadi. Segala kenikmatan yang ada di dalam kehidupan akhirat adalah lebih sempurna. Kedua jenis kehidupan tersebut itu bukan berdiri sendiri-sendiri, tetapi yang kedua merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari yang pertama. Alam akhirat merupakan tempat dan saat perhitungan akhir, dan penentuan nilai tetap bagi setiap manusia yang pernah menjalani kehidupan di alam dunia. Alam akhirat bukan lagi tempat dan waktu bekerja dan berbuat, tetapi hanyalah tempat dan saat menerima hasil akhir kerja dan perbuatan yang telah dilakukan sebelumnya, yaitu selama kita hidup di bumi ini. Dengan demikian, nyatalah bahwa kehidupan sebelumnya itu (yakni di dunia) sangat penting artinya. Kesempatan bekerja dan berbuat hanyalah didapatkan dalam kehidupan di alam dunia ini saja. Jadi benar-benarlah bahwa kehidupan di alam dunia ini merupakan modal dasar bagi manusia.









BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Secara konsepsional, keragaman budaya itu merupakan aset bangsa, oleh karena itu perbedaan tidak harus dipersoalkan, sepanjang perbedaan itu dalam kerangka persatuan. Pancasila sering disebut sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. Artinya nilai-nilai dari sila-sila Pancasila memang digali dari khazanah kebudayaan bangsa.
3.2 Saran
Demikian lah makalah ini dibuat,semoga mendapatkan banyak pengetahuan dan menambah wawasan bagi pembaca. Selanjutnya, penulis juga mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini.

Daftar pusaka

://www.pergerakankebangsaan.org/?p=944
//doankfranky.blog.com/2011/04/20/manusia-dan-pandangan-hidup/

KEGELISAHAN MANUSIA DI SAAT MENGAHADAPI MASALAH

KEGELISAHAN MANUSIA DI SAAT MENGAHADAPI MASALAH






BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kegelisahan merupakan salah satu ekspresi dari kecemasan, karena itu dalam kehidupan sehari-sehari, kegelisahan dan juga diartikan sebagai kecemasan, kekhawatiran ataupun ketakutan, masalah kecemasan atau kegelisahan berkaitan juga dengan masalah frustasi, yang secara definisi daapt disebutkan, bahwa seseorang mengalami frustasi karena apa yang dinginkan tidak tercapai. Kehidupan manusia sekarang ini semakin maju, didukung dengan teknologi yang semakin memudahkan manusia dalam menjalankan aktivitas dan kehidupannya sehari-hari. Gerak manusia semakin cepat, setiap aktivitas yang dikerjakan dikontrol oleh agenda yang senantiasa dibawa serta, mereka merasa selalu diburu waktu seakan waktu 24 jam sehari tidaklah cukup. Kehidupan seakan berjalan seperti rutinitas yang senantiasa harus dilakukan untuk mencapai ‘tujuan hidup’, tanpa menyampingkan hal lain, seperti kesehatan dan kebutuhan spiritual, hanya terfokus pada pekerjaan dengan dipenuhi oleh pikiran kesenangan yang akan didapat di masa yang akan datang.

1.2 Permasalahan
  1. Apa yang di maksud kegilisahan
  2. Cara-cara mengatasi kegilisahan di saat ada masalah?
  3. Contoh-contoh manusia mengalami kegelisahan?


BAB II PEMBAHASAN
2.1 Kegelisahan
Kegelisahan merupakan salah satu ekspresi dari kecemasan, karena itu dalam kehidupan sehari-sehari, kegelisahan dan juga diartikan sebagai kecemasan, kekhawatiran ataupun ketakutan, masalah kecemasan atau kegelisahan berkaitan juga dengan masalah frustasi, yang secara definisi daapt disebutkan, bahwa seseorang mengalami frustasi karena apa yang dinginkan tidak tercapai. Kehidupan manusia sekarang ini semakin maju, didukung dengan teknologi yang semakin memudahkan manusia dalam menjalankan aktivitas dan kehidupannya sehari-hari. Gerak manusia semakin cepat, setiap aktivitas yang dikerjakan dikontrol oleh agenda yang senantiasa dibawa serta, mereka merasa selalu diburu waktu seakan waktu 24 jam sehari tidaklah cukup. Kehidupan seakan berjalan seperti rutinitas yang senantiasa harus dilakukan untuk mencapai ‘tujuan hidup’, tanpa menyampingkan hal lain, seperti kesehatan dan kebutuhan spiritual, hanya terfokus pada pekerjaan dengan dipenuhi oleh pikiran kesenangan yang akan didapat di masa yang akan datang.

Di balik itu semua, secara jujur, maukah Anda mengakui bahwa Anda merasa gelisah? Apakah kadang Anda merasa takut dan susah hati menjalani hidup yang itu-itu saja? Kalau jawabannya ‘ya’, jangan khawatir, karena itu adalah hal yang wajar dialami oleh manusia bahkan mungkin sampai saat kematian menghampirinya. Kegelisahan dan kesedihan merupakan suatu kejahatan kembar yang datang beriringan dan bergandengan. Mereka hidup bersama-sama di dunia ini. Jika Anda gelisah, maka Anda akan merasa susah dan sedih, begitu pun sebaliknya. Kadangkala kita berupaya untuk menghindari mereka, lari dari kenyataan, tetapi tetap saja mereka akan senantiasa hadir dalam diri kita. Kejahatan kembar ini bukan untuk dihindari, tetapi bukan berarti kita membiarkan mereka untuk mengalahkan kita. Kita harus mengatasi mereka dengan usaha kita sendiri, dengan kemantapan hati dan kesabaran, dengan pengertian benar dan kebijaksanaan. Kegelisahan yang timbul dalam diri kita sebenarnya dibuat oleh kita sendiri, kita ciptakan mereka di dalam pikiran kita melalui ketidakmampuan ataupun kegagalan untuk mengerti bahaya perasaan keakuan dan melalui khayalan yang melambung serta kesalahan dalam menilai setiap kejadian atau benda. Hanya jika kita dapat melihat suatu kejadian atau benda dengan apa adanya, bahwa tidak ada sesuatu apa pun yang kekal di dunia ini dan bahwa keakuan kita sendiri merupakan khayalan liar yang membawa kekacauan dalam pikiran yang tidak terlatih. Sang Buddha bersabda, “Di mana pun rasa ketakutan muncul, ia hanya akan muncul pada orang yang bodoh, tidak pada orang yang bijaksana.” Ketakutan tidaklah lebih dari keadaan pikiran yang dapat menjadi subyek untuk mengendalikan dan memimpin, penyalahgunaan pikiranlah yang menghasilkan ketakutan, penggunaan yang benar akan mewujudkan harapan dan cita-cita dan dalam hal ini pikiran sepenuhnya tergantung pada diri kira sendiri. Ada pepatah yang berbunyi, “Alam telah menganugerahi manusia untuk dapat mengendalikan seluruh isinya, kecuali satu hal, yaitu pikiran.” Kenyataan ini diperkuat dengan kenyataan tambahan bahwa segala sesuatu yang diciptakan manusia dimulai dalam bentuk pikiran, hal ini menuntun kita untuk menyadari bahwa ketakutan dapat diatasi. Rasa ketakutan, kegelisahan, dan kecemasan yang tidak berlebihan merupakan naluri alamiah untuk menjaga diri, tetapi jika berlebihan akan menjadi musuh bagi manusia itu sendiri. Seorang ahli anatomi terkemuka dari Inggris suatu ketika ditanya oleh muridnya tentang obat terbaik untuk mengatasi ketakutan, dan jawabnya adalah, “Cobalah untuk mengerjakan sesuatu untuk orang lain.” Murid tersebut merasa heran atas jawaban yang diberikan, kemudian sang guru meneruskan, “Anda tidak dapat memiliki dua pikiran yang berlawanan pada waktu yang sama, salah satu pikiran akan mengusir pikiran yang lain. Jika suatu saat pikiran sedang terpusat untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan apa pun, maka rasa ketakutan tidak akan muncul di dalam pikiran pada waktu yang sama.” Hal-hal berikut bisa kita sadari dan mungkin dilakukan untuk melatih pikiran kita agar kita tidak memberikan kesempatan kepada kejahatan kembar untuk menumpangi pikiran kita: Pengertian fobia menurut para psikopatolog adalah sebagai penolakan yang menggangu, diperantarai rasa takut yang tidak proposional dengan bahaya yang dikandung oleh objek atau situasi tertentu da diakui oleh penderita sebagai sesuatu yang tidak mendasar. Dengan kata lain, fobia adalah ketakutan terhadap suatu situasi atau obyek yang jelas (dari luar individu itu sendiri), yang sebenarnya pada saat kejadian tidak membahayakan
2.2 Cara-cara Mengatasi kegelisahan
Ada suatu cara lain yang mungkin juga baik untruk digunakan dalam mengatasi kecemasan tersebut dengan memerlukan sedikiyt pemikiran yaitu,pertama kita menanyakan pada diri kita sendiri (instropeksi),akibat yang paling buruk yang bagaimanakah yang akan kita tanggung atau yang akan terjadi,mengapa hal itu terjadi,apa penyebabnya dan sebagainya.apabila kita dapat menganalisa akibat yang akan ditimbulkan oleh kecemasan tersebut dan bila kita tidak dapat mengatasinya,kita dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya,karena tidak semua pengalama di dunia ini menyenangkan.Yang ke2,kita bersedia menerima akibatnya dengan rasa tabah dan senang hati niscaya kecemasan tersebut akan sirna dari jiwa kita.dan yang ke3,dengan bersamaan berjalannya waktu kita dapat mencoba untuk memperkecil dan mengurangi keburukan-keburukan akibat timbulnya kecemasan tersebut dalam jiwa kita.

Ada suatu cara paling ampuh dalam menghadapi segala situasi dan kondisi yang bagaimanapun termasuk kecemasan ini yaitu kita berdoa kepada tuhan dengan sungguh-sungguh sabar,tabah,senang dan ikhlas,sehingga ia mau mengabulkan permhonan kita dari perasaan kecemasan ini,sebab tuhan adalah yang paling Maha Pemurah,Maha Pengampun,Maha Pengasih dan Maha Penyayang bagi umatnya yang mau berdoa dan memohon kepadanya.

Dalam kehidupan ini setiap manusia mempunyai harapan-harapan dan setiap manusia mempunyai hak untuk itu,tidak seorang pun dapat menghalanginya.Untuk mencapai harapan-harapan itu manusia berusaha,yang mungkin usahanya itu dengan mengorbankan apa saja dengan kata lain manusia berusaha dengan sekuat tenaga,setelah berusaha maka orang-orang itu dengan gelisah menunggu dan menanti bagaimana hasil usaha mereka,sesuaikah dengan apa yang mereka korbankan,berhasilkah atau mereka harus kecewa karena gagal.

Seringkali dalam menungu hasil-hasil usaha mereka,mereka itu tidak sabar,hati mereka tidak tentram,tidak damai dan lain sebagainya sampai-sampai mereka jarang menggunakan akal sehatnya.Untuk itu disini kami akan mencoba memberi uraian mengapa kita gelisah,mengapa kita merasa khawatir,mereka tidak tentram dan hati kita berdebar dalam menuggu di samping itu pula akan di uraikan mengapa dan apa penyebabnya kita merasa demikian serta bagaimana cara menanggulangi kegelisahan dan kekhawatiran yang kita alami.Disini kami mencoba memberikan gambaran cara penecahan rasa gelisah yang mungkin dialami,sebab seringkali orang yang mengalami kegelisahan menanggulangi atau menyalurkan dengan hal-hal yang bersifat negatif. Sudah tentu cara-cara ini tidak benar, hal ini terjadi karena dalam pemecahan masalah ini mereka tidak menggunakan akal sehat, dengan kata lain emosi dan ratio mereka tidak stabil lagi dan kadang-kadang malah emosi mereka lebih menonjol sehingga tindakan- tindakan mereka tidak terkontrol. Di samping itu juga kegelisahan dan kekhawatiran ini dialami oleh setiap orang hidup dan mempunyai harapan.
2.3 Contoh Manusia Mengalami Kegelisahan
Contoh – contoh kegelisahan menurut pendapat saya pun sangat banyak sekali. Misalnya saja gelisah karena bingung bagaimana cara menyatakan perasaan untuk orang yang disukainya. Biasanya hal ini banyak menimpa remaja – remaja. Walaupun hal tersebut tidak sewajarnya terlalu dipikirkan oleh usia – usia remaja, namun hal ini dapat menyita konsentrasi remaja tersebut. Maka dari itu, saya menganjurkan untuk para remaja yang sedang menyukai seseorang, untuk menyatakan perasaannya agar konsentrari tidak dikacaukan kegelisahan. Karena saya sendiri masih remaja, dan mengerti pemikiran setiap remaja.
Contoh lain adalah kegelisahan menunggu pengumuman. Entah itu pengumuman kelulusan, pengumuman penerimaan, pangumuman apapun. Banyak cara yang dapat saya sarankan untuk sedikit mengatasi kegelisahan itu. Misalnya dengan berlibur kerumah saudara, ataupun ketempat liburan faforit. Namun sebenarnya ada satu hal yang memang manjur untuk meredam kegelisahan, yaitu dengan memasrahkan semuanya kepada yang maha kuasa atas segala rencana dan harapan kita. Karena, dengan memasrahkan segala nya kepada Tuhan yang maha esa, maka kita akan dapat mengambil nilai penting bila yang kita inginkan belum terwujud, yaitu karena keinginan kita itu memang bukan yang terbaik untuk kita. Percayalah, setiap keputusan dari Tuhan adalah memang yang terbaik untuk kita.
Kegelisahan dalam diri manusia dapat timbul sewaktu – waktu tanpa atau dengan diharpakan kehadirannya. Banyak faktor yang yang mempengaruhi dan menimbulkan kegelisahan dalam diri manusia. Adanya rasa gelisah yang dirasakan dan dialami oleh manusia pada dasarnya disebabkan oleh manusia itu sendiri karena semua manusia memiliki hati, perasaan dan pikiran. Selama hidupnya, manusia pasti pernah mengalami kegelisahan baik intensitasnya sering ataupun jarang. Tingkat kegelisahan manusia berbeda-beda , tergantung dari usia orang itu. Semakin dewasa umur kita , semakin tinggi pula tingkat kecemasannya. Hal itu disebabkan karena semakin dewasanya umur seseorang , semakin besar pula masalah yang dihadapinya. Masalah tersebut bisa membuat manusia menjadi gelisah dan membuat hati pun tidak tenang. Namun anak-anak pun bisa mengalami kegelisahan namun tingkat kegelisahannya lebih rendah dari orang dewasa. Jika kegelisahan itu tidak teratasi dengan baik maka bisa menimbulkan rasa stress pada orang tersebut. Rasa stress itu terjadi akibat seseorang tidak bisa menyelesaikan masalah yang sedang di hadapinya. Kegelisahan sifatnya tidak permanen dan bisa diatasi dengan bercerita kepada seseorang untuk membantu menyelesaikan masalah yang kita hadapi yang membuat kita gelisah. Kita bisa menceritakan kegelisahan kita untuk menghilangkan rasa yang sedang kita rasakan dan membuat hati menjadi tenang kembali. Dengan bercerita kepada seseorang yang kita percayai , rasa gelisah itu pasti akan hilang. Karena bercerita dengan seseorang bisa menghilangkan masalah yang sedang terjadi.

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Mengalami kegilisahan adalah suatu penyakit gangguan jiwa,sebaiknyan supaya kita bisa bebas dari kegilisahan itu kita bisa menceritakan masalah yang sedang kita alami ke pada orang yang bisa memberikan masukan atau saran positif kepada kita.
3.2 Saran
Demikian lah makalah ini dibuat,semoga mendapatkan banyak pengetahuan dan menambah wawasan bagi pembaca. Selanjutnya, penulis juga mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini.

Daftar pusaka

http://agungdimas.wordpress.com/2010/06/04/manusia-dan-kegelisahaan/
.http://setdjadi30.wordpress.com/2011/05/23/apa-itu-kegelisaha/

KEADILAN DALAM RUMAH TANGGA




KEADILAN DALAM RUMAH TANGGA










BAB 1 PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang

Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang dikenal oleh

manusia. Dalam keluarga, manusia belajar untuk mulai berinteraksi dengan orang
lain. Oleh karena itulah umumnya orang banyak menghabiskan waktunya dalam
lingkungan keluarga. Sekalipun keluarga merupakan lembaga sosial yang ideal
guna menumbuhkembangkan potensi yang ada pada setiap individu, dalam
kenyataannya keluarga sering kali menjadi wadah bagi munculnya berbagai kasus
penyimpangan atau aktivitas ilegal lain sehingga menimbulkan kesengsaraan atau
penderitaan, yang dilakukan oleh anggota keluarga satu terhadap anggota keluarga
lainnya seperti penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan. Situasi inilah yang
lazim disebut dengan istilah Kekerasan dalam Rumah Tangga.
Kekerasan dalam rumah tangga telah menjadi wacana tersendiri dalam
keseharian. Pada umumnya, dalam struktur kekerabatan di Indonesia kaum lakilaki
ditempatkan pada posisi dominan, yakni sebagai kepala keluarga. Dengan
demikian, bukan hal yang aneh apabila anggota keluarga lainnya menjadi sangat
tergantung kepada kaum laki-laki. Posisi laki-laki yang demikian superior sering
kali menyebabkan dirinya menjadi sangat berkuasa di tengah-tengah lingkungan
keluarga. Bahkan pada saat laki-laki melakukan berbagai penyimpangan
kekerasan terhadap anggota keluarga lainnya dimana perempuan dan juga anak
menjadi korban utamanya tidak ada seorang pun dapat menghalanginya.


    1. Permasalahan
  1. Apa yang dimaksud keadilan dalam rumah tangga?
  2. Macam-macam keadilan dalam rumah tangga?
  3. Contoh-contoh keadilan dalam rumah tangga?





BAB II PEMBAHASAN
2.1 KEADILAN DALAM RUMAH TANGGA
Sebagaimana yang telah saya ungkapkan dalam tulisan terdahulu, ada 4 pilar yang menjaga kokohnya sebuah rumahtangga, dimana salah satunya adalah sikap adil/keadilan. Terkait hal tersebut, pada prakteknya sikap adil seolah hanya menjadi tanggungjawab mereka para suami sebagai pemimpin keluarga. Sehingga seringkali lelaki/suami menjadi pihak tertuduh dalam hal sebab hancurnya sebuah bahtera rumah tangga, terlebih jika isu yang muncul melibatkan orang ke-3. Rasa keadilan yang tercederai menjadi hal utama yang disorot kaum wanita di satu pihak, sementara itu di lain pihak kaum lelaki seolah tak menerima hal tersebut.Benarkah sikap adil itu adalah sifat wajib bagi para suami ? menjawab pertanyaan tersebut tentu memerlukan sebuah sandaran hukum yang kuat, karenanya pada awal tulisan saya mengutip surah al-Maidah ayat 8. Dalam pemahaman saya pribadi, sifat adil adalah sifat wajib bagi setiap individu dalam sebuah rumahtangga, baik itu suami, isteri, anak atau pun orangtua (ibu bapa/mertua). Keadilan mutlak untuk ditegakkan dalam sebuah rumahtangga mengingat adanya interaksi sosial antar individu yang terlibat di dalamnya. Persinggungan hak dan kewajiban anggota keluarga baik itu suami, istri maupun anak sering menimbulkan masalah yang hanya dapat dituntaskan dengan solusi yang berasaskan prinsip-prinsip keadilan. Dengan keadilan, solusi yang muncul tidak menimbulkan perasaan dirugikan, dizalimi ataupun dikecilkan dalam keluarga. Bisa dibayangkan betapa nyamannya kehidupan sebuah tangga yang di dalamnya terdapat suami, isteri, anak, ibubapa, mertua, atau ipar yang memegang teguh prinsip-prinsip keadilan dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali suami/isteri menuntut agar pasangannya memperlakukan dirinya bak raja/ratu namun disisi lain ia memperlakukan pasangannya seperti pelayan istana. Ada juga suami/isteri yang ingin orangtuanya diutamakan dan diperlakukan dengan baik oleh pasangannya, namun dalam waktu yang sama ia memperlakukan orangtua pasangannya dengan semena-mena. Ada orangtua yang ingin anaknya patuh dan taat kepadanya, tapi disisi lain ia tidak memenuhi keperluaan rohani dan jasmani sang anak. Tengoklah bagaimana alquran mengajarkan kita tentang prinsip keadilan dalam keluarga, ingatkah kita dengan untaian kalimat dalam do’a untuk ibu dan bapa kita? “…dan sayangilah keduanya seperti mana mereka mengasihi kami di waktu kecil”
Bukankah itu sama artinya kita menginginkan Tuhan menegakkan keadilan untuk kedua orangtua kita dalam hal kebaikan & kasih sayang-NYa? Keadilan itu dapat memuaskan semua pihak, menekan kezaliman dan menghentikan konflik, wajarlah jika kemudian Tuhan mengatakan bahwa adil itu lebih dekat kepada taqwa.



2.2 MACAM-MACAM KEADILAN
Macam - Macam Keadilan
1. Keadilan legal atau keadilan moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjadi kesatuannya. Dalam masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan menurut sifat dasarnya paling cocok baginya ( the man behind the gun ). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan oleh yang lainnya disebut keadilan legal.
2. Keadilan distributive
Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan tidak sama (justice is done when equels are treated equally).
3. Keadilan komutatif
Keadilan ini bertujuan untuk memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi Aristoteles pengertian keadilan ini merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrem menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat
Menurut saya keadilan memang tidak mudah untuk didapat walau sudah begitu banyak lembaga atau pihak yang menangani masalah keadilan dalam suatu negara. Keadilan legal atau keadilan moral yang saya tanggap dari teori plato bahwa setiap orang memiliki sifat dasar atau keahlian yang berbeda – beda dan suatu masyarakat akan dikatakan masyarakat yang adil maka masyarakat itu setuap orangnya harus bekerja sesuai dengan sifat dasarnya atau keahlian orang tersebut sehingga jika semua melakukan pekerjaan yang cocok untuk keahliannya tersebut maka terbentuklah suatu keadilan.
Saya setuju dengan teori Aristoteles, bahwa bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan tidak sama. Tetapi setiap orang yang akan dibandingkan harus memiliki posisi ataukeadaan yang sama, seperti dalam sebuah keluarga maka seorang ibu harus adil terhadap anak – anaknya yang mempunyai kedudukan yang sama dalam keluarga tersebut.
Dengan keadilan maka pasti akan tercipta ketertiban dan kesejahteraan. Karena semua orang telah melaksanakan tanggung jawabnya masing – masing dengan baik dan seharusnya sehingga mereka semua mendapatkan haknya. Jika semua itu telah terjadi maka akan timbul rasa sejahtera dalam masyarakat tersebut karena semua sudah sesuai pada tempatnya masing – masing.
Suber sebagai referensi.
2.3 COTOH KEADILAN
Contoh lain untuk lingkungan social bermasyarakat yaitu tidak adanya suatu keadilan dalam hukum, misalnya dalam suatu kasus yang sering muncul dalam pemberitaan yaitu terjadinya suatu kekeliruan dalam pengambilan keputusan dalam sidang dari kasus narkoba. Dimana ada dua orang dalam kasus yang sama, tetapi latarbelakang yang berbeda dari keduanya. Yang pertama seorang sopir truk kedapatan membawa satu butir ekstasi dan di pidana kurang lebih 9 tahun penjara, sedangkan orang yang kedua merupakan seorang lawyer yang kedapatan membawa beberapa butir ekstasi dan di pidana kurang lebih hanya 2 tahun penjara. Dan yang menjadi hal yang menggelitik di sini yaitu alas an dari Hakim yang memvonis, dengan alasan dia meringankan hukumannya karena orang tersebut mempunyai pengabdian. Bukankah dalam hukum dinegara kita ini, tidak memandang status social dari pribadi seseorang?????????
Dari contoh-contoh kasus tersebut, kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa, suatu hal (keadilan) berasal dari lingkungan terdekat dari seseorang yang mempunyai dampak yang cukup luas untuk lingkungan yang mencakup social masyarakat pada umumnya. Maka dari itu, kembali kita tekankan akan pentingnya sosialisasi untuk setiap individu agar ditanamkan rasa akan peduli terhadap suatu keadilan dalam lingkungan seseorang tersebut, karena mungkin dengan hal demikianlah dampaak-dampak negative itu dapat teratasi dan berharap tidak akan pernah timbul dalam lingkungan luas.
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Secara kehidupan dalam kehidupan berkelurga supaya harmonis tetap terjaga hubungannya harus memiliki rasa keadilan yang tinggi terhadap keluarga,jangan ada perbedaan di dalam keluarga supaya dampak-dampak negative dapat teratasi dengan rasa keadilan.

3.1 Saran
Demikian lah makalah ini dibuat,semoga mendapatkan banyak pengetahuan dan menambah wawasan bagi pembaca. Selanjutnya, penulis juga mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini.




DAFTAR PUSAKA
blogspot.com/2011/04/manusia-dan-keadilan-dalam-lingkup.html
http://irfanarifprasetyo.blogspot.com/2011/03/macam-macam-keadilan.html

penderitaan manusia dalam menghadapi kehidupan ekonomi zaman sekarang

BAB I
1.1 PENDAHULUAN
Manusia sebagai mahluk ekonomi
Ekonomi merupakan salah satu ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi barang dan jasa.
Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia melekukan berbagai kegiatan. Kegiatan manusia dalam memenuhi atau memuaskan kebutuhannya harus sesuai dengan kemampuannya.
Kegiatan inilah yang menunjukan kedudukan manusia sebagai mahluk ekonomi (HOMO ECONOMICUS)
Sebgai mahluk sosial dan mahluk ekonomi pada dasarnya selalu menghadapi masalah ekonomi. Inti dari masalah ekonomi yang dihadapi manusia adalah kenyataan bahwa kebutuhan manusia jumlahnya tidak terbatas sedangkan alat pemuas kebutuhan manusia jumlahnya terbatas.
Sebagai mahluk ekonomi yang bermoral, manusia berusaha memilih dan menggunakan sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhannya dengan memperhatikan nilai nilai agama dan norma norma sosial, tidak merugikan orang lain, menggunakan sumber daya alam secara efektif serta memperhatikan kelestarian lingkungan
2.2 PERMASALAHAN
  1. Apa hubungan manusia dan penderitaan ekonomi?
  2. Bagaimana cara supaya manusia tidak melihat dalam satu sisi saja?
  3. Siapa saja yang bisa mengalami frustasi?

BABII
PEMBAHASAN
    1. Hubungan manusia dan penderitaan ekonomi
Frustasi adalah suatu keadaan atau kebutuhan yang tidak terpenuhi. Frustasi terjadi karena mengalami kegagalan, tidak mempunyai kepercayaan diri yang baik dan mengalami gangguan emosional. Seseorang yang frustasi terlihat kehilangan gairah yang ditandai dengan wajah yang lesu, gerakannya lambat. Seseorang yang frustasi juga terlihat penampilannya sedih, kecewa, gelsiah, cemas, tegang, bingung. Banyak diantara mereka yang mengalami frustasi juga melakukan perbuatan negatif, seperti berfoya-foya, melakukan hubungan sex bebas, materialistis, egois, maunya berkuasa, kehilangan arti hidup bahkan ada juga sampai melakukan bunuh diri. Sebab – sebab orang mengalami kekalutan mental (Frustasi) .
Karena masalah hidup yang dihadapi dirasa sulit dan menjadi beban dalam hidupnya Tugas kuliah yang menumpuk dan tidak mampu untuk menyelesaikannya Hubungan dengan orang yang paling dekat tidak berjalan dengan baik 
Masalah yang ada dalam keluarga 
Tekanan dari orangtua yang harus mengikuti keinginanya 
Ujian Negara yang membuat merasa tidak percaya diri 
Kekurangan yang dimiliki sehingga menjadi tidak percaya diri . Malu dengan keadaan ekonominya Siapa saja yang rawan mengalami kekalutan mental(Frustasi)? Siapa pun dapat mengalami kekalutan mental / frustasi karena pada keadaan tertentu setiap manusia merasa kurang dengan segala yang dimiliki dan merasa berat menjadi kehidupan yang penuh dengan problematika. 

2.2 Ada 7 cara yang dapat dilakukan agar kita tidak selalu melihat sesuatu pada satu sisi saja. 
Sikap optimis merupakan pilihan, bukan bawaan dari lahir. Katakan pada diri sendiri bahwa kita mempunyai 
kebebasan untuk memandang setiap situasi negatif dan mengambil sikap negatif atau positif. Bila kita katakan           pada dirisendiri. Jangan Cemas! Maka hati kita akan lebih tenang. 
Manusia adalah mahluk yang mempunyai akal budi yang berarti kita bisa belajar, dapat menyusun rencana dan menentukan tujuan. Bila tidak seluruh tujuan dapat tercapai, setidaknya sebagian dari tujuan dapat terselesaikan. 
Bersikap tenang, rileks, sambil berpikir menyusun strategi. Di saat sulit, jangan mengambil tindakan untuk sesuatu yang tidak bisa diubah, keputusan yang diambil terburu-buru dan tindakan cepat tanpa berpikir panjang akanmemperburuk masalah. 
Belajar bereaksi secara positif, karena pemikiran positif menghasilkan sesuatu yang positif pula. Pikiran negatif akanselalu membawa hasil negatif. 
Kita tidak dapat mencegah terjadinya perubahan, jadi bila suatu saat kita kehilangan sesuatu yang kita miliki, kita harus tetap bersyukur dan optimis karena keadaan pada hari esok pasti tidak akan sama dengan hari ini. 

2.3 orang – orang yang mengalami frustasi adalah : 
1. Orangtua, ini biasanya dikarenakan anak – anak mereka yang tidak dapat diatur dan membuat malu orangtua mereka. Tidak hanya itu, karena pertengkaran dan biaya hidup yang harus dipenuhi juga membuat orangtua sering merasa frustasi 
2. Pegawai / karyawan, biasanya karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan mereka selalu harus berada dikantor dan mendapat tambahan pekerjaan serta tumpukan pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya 
3. Remaja, pada remaja adalah hal yang sangat wajar dan paling sering dialami oleh mereka. Selain, dikarenakan tugas – tugas yang terus bertambah dan menumpuk, pelajaran yang sulit untuk dimengerti, bahkan karena masalah percintaan yang mungkin hanya sekedar cinta monyet dan penampilan fisik yang dirasa kurang menarik menjadi salah satu yang membuat para remaja frustasi. ( ini dapat dimaklumi karena keadaan remaja yang masih labil dan dalam menjajakan menuju kedewasaan ).
Cara menghindari kekalutan mental (Frustasi) Menghindari Frustasi Saat Depresi Akhir-akhir ini hampir setiap orang mengeluhkan keadaan ekonomi seperti, pasaran sepi, usaha macet, sulit mencaripekerjaan, dan bila kita masih bersabar mendengarnya, akan lebih banyak lagi yang akan kita dengar. Tetapi adasesuatu yang harus kita lakukan agar terhindar dari frustasi bila kita berada ditengah situasi ini.













BABIII
3.1 KESIMPULAN
Hubungan manusia dan penderitaan ekonomi adalah masalah terbesar, banyak manusia yang frustasi sehingga mereka semua stress, frustasi akibat penderitaan ekonomi juga bisa terjadi ke pada kaum remaja,maka dari itu kita sebagai manusia harus rilex,jangan mudah prustasi.
3.2 SARAN
Demikian lah makalah ini dibuat,semoga mendapatkan banyak pengetahuan dan menambah wawasan bagi pembaca. Selanjutnya, penulis juga mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini

.DAFTAR PUSAKA
wordpress.com/rangkuman-manusia
















Penderitaan Manusia Dalam Menghadapi Kehidupan Ekonomi Zaman Sekarang









Nama : Muhamad Linggar Saputra
Kelas : 1EA04
Npm : 14212807